Maafkan Aku Ibu

10:07:00 PM Unknown 0 Comments

Beberapa hari ini Vino kelihatan murung, ada sesuatu yang menyebabkan ia bersikap seperti itu. Vino sangat kecewa karena ibunya tak segera membelikannya sepatu. Padahal sepatunya sudah kelihatan usang. Ia sudah malu memakainya.
Sikapnya itu berkelanjutan hingga hari Senin. Pagi itu ia berangkat ke sekolah tanpa berpamitan kepada ibunya. Ia masih dongkol terhadap ibunya. “Vino, Vino... Kamu masih saja tak mengerti dengan keadaan ibu...,” gumam ibunya sedih sambil membereskan sarapan yang tadinya ia siapkan, tetapi tak di sentuh sama sekali oleh anaknya. Wanita paruh baya itu tampak kecewa dengan sikap anaknya.
Sementara itu Vino mengayuh sepeda bututnya menuju sekolah dengan agak cepat. Ia takut terlambat karena setiap Senin di sekolahnya diadakan upacara bendera. Apalagi nanti ia bertugas sebagai pemimpin upacara. Sesampai di sekolah ia masih memandangi sepatunya yang memang sudah melongo minta makan. “Ada apa Vino?” sapa Junnod, teman sekelasnya, saat melihat Vino tampak melamun. “Gak papa!” jawab Vino singkat sambil mengalihkan pandangannya. Percakapan itu terhenti karena upacara bendera segera dimulai. Vino ragu melangkahkan kaki. Ia merasa sejuta mata memandang sepatunya.
“Kepada Pembina upacara, hormat grak...,” Vino begitu lantang memimpin upacara bendera. Sesaat ia lupa akan sepatunya. Tidak terasa detik-detik yang ia khawatirkan terlewati begitu cepat. Yach... ternyata tak satu pun temannya yang menyoal sepatunya itu. Ia lega sekali. Suasana hati Vino mulai mencair.
Saat istirahat, Vino dan Junnod masih tampak bersama. “Yuk kita ke kantin, Vino,” ajak Junnod. “Malas, ah!” jawab Vino. “Memangnya kamu gak lapar?” tanya Junnod. “Lapar sih. ..tapi aku tak diberi saku ibuku,” jawab Vino cemberut. “Ah yang bener?” Junnod tak percaya. “Vino, setahuku Bu Siti, ibu kamu itu, orang yang sangat sayang kepada anak semata wayangnya. “Ya sudahlah, kalau begitu kali ini aku yang jadi bos ya... Kamu aku traktir, okey?” keduanya pun bergegas ke kantin. Walaupun wajah Vino masih suram tanpa senyuman.
Tak berapa lama jam terakhir di sekolah Vino berakhir. Bel berbunyi. Semua siswa ceria karena segera cepat di rumah. Namun tidak demikian dengan Vino. Ia masih bermain dengan perasaannya. Ia enggan pulang. Ia malas bertemu ibunya. “Minta sepatu saja ditunda-tunda terus...” ia menggumam lirih. Dengan langkah berat ia berjalan menuju tempat parkir sepeda.
Sesampai di luar gerbang sekolah, ia mulai mengayuh sepeda. Sekali kayuh, dua kayuh, tiga kayuh... tiba-tiba ia tercengang. Ia melihat ular panjang kecil berwarna hijau merah melilit di setir sepedanya. Ia segera melempar sepedanya sekuat tenaga. Vino jatuh di tengah jalan. Ia meringis kesakitan. Lengan dan kakinya terluka. Karena menahan sakit, ia lemas dan merasa kepalanya pening. Vino tak sadarkan diri. Orang-orang yang sempat melihat Vino segera menolongnya. Untunglah tidak banyak kendaraan yang lalu lalang. “Lho...ada kecelakaan ya...,” terdengar beberapa orang berteriak dan berkerumun semakin banyak. “Lho itu kan anak Bu Siti?” teriak salah seorang yang tahu Vino. “Yach, cepat hubungi ibunya!” kasihan anak ini. Suasana ramai. Vino segera dibawa ke Puskesmas terdekat. Satu per satu orang yang menolong Vino meninggalkan Puskesmas hingga Bu Siti datang. Bu Siti sangat kaget melihat anaknya tergeletak tak berdaya di tempat tidur. Ia menitikkan air mata melihat Vino yang masih tak sadarkan diri. “Ular...Ular...,” tiba-tiba Vino berteriak. Bu Siti memeluk anaknya itu. “Ada apa Nak?” “Sudah...sudah... ini Ibu nak...” Bu Siti mencoba menenangkan sang buah hatinya. “Ibu... maafkan Vino Bu!” Vino menangis menyadari kesalahannya. “Sudahlah Nak, tenangkan hatimu. Ibu berjanji akan segera membelikan sepatu seperti yang kau inginkan kalau ibu sedah punya uang,” Bu Siti mengelus-elus rambut anaknya. “Bukan itu Ibu...Vino tidak minta sepatu lagi...Vino hanya minta maaf dari Ibu. Huk...huk,” Vino masih menangis sesenggukan, Ibu Siti bingung. Anaknya tiba-tiba minta maaf. Padahal tadi pagi ia memaksa bahkan ngambek karena tak dibelikan sepatu. Bu Siti tidak tahu bahwa ada peristiwa naas yang mampu mengubah sikap anaknya dalam sekejap. Bu Siti kembali memeluk anaknya yang tiba-tiba berubah sikap. Ia sangat bersyukur dan tersenyum bahagia dengan anaknya yang telah minta maaf kepada dirinya.
Sementara itu Vino, di relung hatinya yang terdalam berjanji tak akan menyakiti hati ibunya lagi. Ia merasa sangat sayang kepada ibunya, orang tua satu-satunya yang ia miliki saat ini. Baginya peristiwa naas sepulang sekolah tadi adalah peringatan Allah SWT terhadap hambaNya agar tidak menyakiti hati seorang ibu. Yaaah, ibu, wanita yang mulia.

You Might Also Like

0 komentar: