Norma duduk dipinggir
lapangan, matanya tertuju pada dua orang pria yang sedang main basket. Mereka
adalah sahabatnya. Dilihatnya mereka, begitu keren dan lihai dalam mendrible,
shoot, dan lay up. Namun, hanya satu yang tak lepas dari pandangannya.
Buru-buru Norma membuang jauh-jauh pikirannya.
“Astaga Nor, inget!
Sahabat gak mungkin jadi cinta!”
“Woy Nor, gue haus
nih. Mana minumnya?” Alvin menyadarkan Norma dari lamunannya.
“Kambing! Ngagetin
aja lu, nih” Ucap Norma sambil menyodorkan sebotol air mineral pada sahabatnya
itu. Alvin mengambilnya dan memposisikan duduk di samping Norma.
“Thanks. Lagian lu
ngelamun aja, ngelamunin apaan sih?” selidik Alvin sambil membuka tutup botol
air mineral tersebut dan langsung menenggaknya.
“Enggak kok. Eh, Gi,
lu gak capek? Nih minum dulu!” Teriak Norma pada Agi, salah seorang sahabatnya
lagi, sembari menyodorkan sebotol air mineral. Diikuti dengan gelengan dari Agi.
“Enggak deh, ntar
aja” Jawabnya sambil men-drible bola basketnya lalu meng-shoot-kannya ke dalam
ring dan masuk!
Setelah shoot tadi
masuk, Agi pun menghampiri kedua sahabatnya itu. Agi duduk di samping Norma,
sisi lain dari Alvin. Agi selalu terlihat cool dan misterius, itulah alasan
banyak cewe-cewe yang tergila-gila padanya. Berbeda dengan Alvin yang terlihat
sangat ramah. Keduanya menjadi idola di kampus.
“Ke bukit yuk, udah
lama kan kita ga ke sana” Ajak Alvin antusias.
“Boleh, menurut lu
gimana, Gi?” Tanya Norma pada Agi.
“Gue sih ikut aja”
Sesampainya di bukit,
mereka bertiga duduk di atas bukit tersebut sambil melihat pemandangan yang
sangat indah. Hening menyelimuti ketiga sahabat tersebut. Tak ada satu pun yang
mengeluarkan suara. Tak tahan dengan keheningan tersebut, Norma pun akhirnya
bersuara.
“Eh guys, lihat deh
awan itu ngebentuk hati”
Tetap hening. Rencana
Norma gagal.
“Salah gak sih kalo
kita mencintai sahabat kita sendiri?” Ucap Alvin. Membuat kaget kedua
sahabatnya. Reflex Norma dan Agi melirik ke arah Alvin yang masih menatap
langit sore yang begitu indah. Kemudian keduanya kembali dalam bayangannya
masing-masing.
<> Norma
Di sore yang indah di
atas rerumputan, Norma dan Alvin duduk berdua. Kemudian Alvin mengambil gitar
dan menyanyikan lagu yang romantis pada Norma.
<> Agi
Agi dan Norma bermain
basket bersama. Agi tak ingin melewatkan canda tawanya bersama Norma.
Senyumannya, tawanya, dan segala perhatian yang diberikan Norma.
<>
“Ya, mungkin
sebaiknya begitu” ucap Agi dalam hati.
Agi memberanikan diri
untuk menyatakan perasaannya pada Norma.
“Nor, lu mau gak jadi
pacar gue?” Agi menatap Norma sangat dalam dan tenang. Hal itu membuat Norma
dan Alvin sontak kaget.
“Lu gak sakit kan, Gi?”
Tanya Norma.
“Enggak, Nor. Gue
serius”
“Eh guys, gue balik
dulu ya. Dicariin nyokap nih” Pamit Alvin bohong. Alvin tak sanggup melihat
pemandangan tersebut. Melihat orang yang dicintainya dengan sahabatnya sendiri.
“Loh, Al?” Norma
bingung. Yang dicintai Norma itu Alvin, bukan Agi.
“Gimana, Nor?”
“Sorry, Gi. Gue gak
bisa. Gue sayang sama Alvin” Norma menundukan kepalanya. Sedih. Ia tidak tega.
Namun mau bagaimana pun, Norma mencintai Alvin.
“Jadi, perhatian lu
selama ini ke gue ga ada arti apa-apa?”
“Ya lu kan sahabat
gue, gue gak enak aja ngeliat lu sendirian. Lu gak pernah nunjukin kalo lu suka
sama gue.”
“Karena Alvin, dia
selalu ngedeketin lu. Gue gak suka. Makanya gue menutup diri, karena gue
cemburu.”
Norma tidak menyadari
hal itu, kini ia dihadapkan pada cinta segitiga.
Keesokan harinya, Agi
bermain basket sendirian. Membuang segala kekesalan yang menyelimuti hatinya.
Tiba-tiba Alvin menghampirinya.
“Selamat ya, bro!”
Ucap Alvin sambil memberi tangannya untuk berjabatan. Namun tak dihiraukan oleh
Agi, Agi kembali asyik memainkan bola basketnya. Saat Alvin akan pergi, Agi
melemparkan bola basketnya itu pada Alvin dengan kerasnya hingga Alvin
tersungkur.
“Apa-apaan sih lu, Gi?”
“Elu yang apa-apaan!
Apa-apaan lu ngasih selamat ke gue? Norma nolak gue! Dan itu semua gara-gara lu
tau gak? Dia sayang sama lu” amarah Agi lepas.
“Stop!!! Kalian ini
apa-apaan sih?” Norma menghentikan. Buru-buru Norma menghampiri Alvin. “Lu gak
apa-apa?” Norma khawatir.
“Lepas, Nor. Gue gak
mau ada salah paham diantara kita bertiga”
“Maksud lu apa?”
Tanya Agi
“Gue sayang sama lu, Gi!”
pernyataan itu sontak membuat kaget semuanya. Alvin homo??? Reflex Norma
menjauh dari Alvin.
“Lu homo?” Tanya Norma.
________TAMAT_________